Tradisional?

Pada resepsi pernikahan sepupu saya bulan lalu, dia bercerita kalau menginginkan konsep resepsi pernikahan dengan adat Jawa. Mulai dari adanya malam midodareni, siraman, pecah telor, dan adat gendong-gendongan. Yang terakhir ini saya lupa namanya apa.

Lalu dicarikanlah salon rias pengantin yang bisa menjadi perancang acara sesuai keinginan sepupu saya. Saya juga didaulat olehnya untuk menjadi pendamping pengantin. Beserta ayah saya yang menjadi among tamu sekaligus penerima pengantin dari pihak keluarga perempuan.

Hari H pun tiba, saya dan pengantin didandani dengan kebaya berbahan brokat dengan desain yang disebut kebaya modern. Tak lupa di kepala kami juga ditutupi jilbab dengan gaya hijab kekinian, dililit-lilit apik.

Setelah akad nikah, sepupu saya menjalani prosesi adat injak telur dan membasuh kaki suaminya. Menurut perias, artinya istri tunduk patuh pada suami.

Sepanjang mendampingi pengantin, saya terpikirkan yang disebut adat tradisi Jawa yang dimaksud oleh adik saya ada di sebelah mana? Secara busana, saya memang memakai kebaya. Yang saya heran, kenapa semua lalu dijilbabi? Bahkan pendamping pengantin lainnya dab para perempuan among tamu yang tidak berjilbab pun ikut dikerudungi. Bukankah jilbab adalah budaya Arab? Atau kalau mau disebut sebagai penanda keislaman?

Memang, tidak ada budaya yang sepenuhnya asli Indonesia karena semua adalah hibriditas, persilangan berbagai suku bangsa negara. Namun yang saya sayangkan, sekarang sudah jarang sekali ditemui perempuan-perempuan yang menggunakan dodotan dalam pernikahannya. Tentu sejak kerudung, jilbab, dan hijab menjadi tren fashion terkini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Via Vallen Digemari? : Sebuah Amatan tentang Via Vallen

Salon: Tempat Pelarian Perempuan Kelas Menengah