Ekonomi Politik Media di Balik Film Dokumenter Uncover Papua




Pendahuluan
            Indonesia saat ini mempunyai 35 provinsi, dua diantaranya memiliki otonomi khusus, yaitu Nangroe Aceh Darussalam dan Papua Barat. Pulau Papua sendiri kini terbagi menjadi Provinsi Papua dengan ibukota Jayapura dan Provinsi Papua Barat dengan ibukota Manokwari (Mollet, 2011:233). Papua Barat bersatu dengan Indonesia pada tahun 1962 di bawah kepemimpinan Soeharto. Sebagai provinsi yang berada di paling timur Indonesia, Papua seringkali jauh dari perhatian pemerintahan pusat. Oleh karena itu, status otonomi khusus diberikan kepadanya untuk membangun daerah. Walaupun demikian, Papua menyimpan kekayaan alam yang nilainya sangat tinggi. Di era Orde Baru, Presiden Soeharto ia membuka keran investasi asing untuk berinvestasi dan melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam di Papua. Tentu, perusahaan yang berinvestasi di sana memberikan banyak perubahan terhadap perkembangan Papua, tetapi di sisi lain, perusahaan juga memberikan efek negatif terutama bagi warga lokal.
Bentang alam Papua yang masih asli, sumber daya alam yang besar nilainya, dan kearifan lokal dari masyarakat adat setempat belum sepenuhnya diperhatikan oleh pemerintah pusat. Ketika Provinsi Papua berada di bawah kepemimpinan J.P. Salossa merupakan saat yang penting bagi Papua karena di masa itu, Papua mendapatkan otoritas dari pemerintah pusat untuk mengolah kekayaan alam mereka sendiri (Mollet, 2011:235). Pemerintahan J.P. Salossa sendiri dimulai beberapa tahun setelah runtuhnya Orde Baru. Di masa Reformasi, pemerintah mulai membuka mata untuk memperbaiki Papua dan tidak hanya memanfaatkan Bumi Cendrawasih sebagai penghasil ceruk uang negara. Berbagai elemen juga menunjukkan perhatian terhadap Papua termasuk media pun mulai mengangkat sisi lain dari Papua.
Pulau yang mendapat julukan sebagai mutiara hitam tersebut acapkali mendapat stigma negatif. Stigma tersebut dilekatkan kepada masyarakat yang sadis, kejam, dan hobi berperang. Media sebagai pemberi informasi juga memiliki andil dalam penyebaran stigma tersebut. Untuk melepaskan stigma buruk atas Papua, dua orang sineas Indonesia, yaitu Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen mulai tahun 2005 membuat film berlatar belakang tanah Papua. Beberapa judul film berhasil mereka buat di bawah bendera Alenia Production House. Ari dan Nia mengangkat hal baik yang tidak tersorot di media atas Papua.
Berangkat dari pengalaman membuat film dengan latar belakang tempat dan keadaan sosial di Papua, pasangan ini kembali membuat sebuah film dokumenter berjudul Uncover Papua. Film dokumenter ini berkisah tentang perjalanan Ari dan Nia mengelilingi provinsi Papua dan Papua Barat selama 80 hari. Perjalanan dilakukan melalui darat, laut, dan udara. Mereka berhasil mengunjungi 25 kota dan kabupaten, 120 distrik atau kecamatan, dan 250 kampung. Film dokumenter Uncover Papua ditayangkan di MetroTV setiap hari Sabtu mulai tanggal 4 April dan sampai saat ini telah ditayangkan sebanyak dua episode.
Melakukan perjalanan di daerah yang dikenal memliki akses yang sulit tentu membutuhkan biaya operasional dan produksi yang tidak sedikit. Untuk program acara ini, pihak Alenia Production House mengundang sejumlah perusahaan besar, baik di tingkat lokal Papua, maupun di tingkat nasional. Dari atribut-atribut yang digunakan dalam film dokumenter tersebut, diketahui beberapa sponsor, yaitu PT Freeport Indonesia, perusahaan mobil Toyota, Bank Papua, dan Tanoto Foundation.
Menarik memang membincangkan mengapa Papua yang diangkat dalam kisah perjalanan tersebut? Pertanyaan lainnya, mengapa stasiun televisi MetroTV yang dipilih ataupun berminat menayangkan acara tersebut? Dan yang terakhir, dari sisi pembiayaan acara, mengapa PT Freeport menjadi sponsor acara ini?
Ada beberapa asumsi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, dari sisi produsen acara, Ari Sihasale sebagai penggagas sekaligus pembawa acara merupakan artis yang cukup tenar di kalangan perfilman Indonesia dan berdarah Papua. Ia kini dikenal sebagai artis yang konsern dengan film yang bersetting kearifan lokal Papua. Dalam beberapa wawancara dengan media, Ale merasa sebagai keturunan Papua perlu memiliki kontribusi untuk tanah leluhurnya. Lihat saja, sederetan film yang diproduseri oleh Ale dan istrinya berlatar belakang tanah Papua. Kedua, Papua yang pada masa pemerintahan Orde Baru menjadi suatu hal yang liyan di Indonesia, kini menjadi fenomena baru yang tengah gencar diangkat di televisi Indonesia. Pada media terdahulu, kita hanya melihat Papua sebagai daerah yang terluar, terpinggir, dan tertinggal di Indonesia. Karena lokasinya yang jauh dari pusat pemerintahan, Papua seringkali tidak tersentuh oleh tangan pemerintah. Papua hanya disebut sebagai warna dalam kebhinekaan Indonesia. Sedangkan di masa kini, pasca Orde Baru, Papua diangkat melalui pariwisata karena keindahan alamnya yang juga tidak kalah menarik dengan yang ada di Jawa maupun Sumatera. Ketiga, terkait dengan MetroTV yang menayangkan acara Uncover Papua bisa dijelaskan dengan teori ekonomi politik media. Keempat, keberadaan PT Freeport Indonesia sebagai sponsor acara juga perlu diteliti lebih lanjut mengingat perusahaan tambang yang telah lama beroperasi di Indonesia ini saat ini sedang dalam permasalahan terkait kontraknya di Papua.

Afiliasi PT Freeport Indonesia dengan MetroTV
Seperti diketahui bersama bahwa MetroTV adalah milik konglomerat media, Surya Paloh, yang pada masa pemerintahan Jokowi saat ini menjadi salah satu media pendukung. MetroTV memang tidak secara langsung menyatakan dukungannya kepada Jokowi dan JK, tetapi dalam pemberitaan selama masa kampanye Jokowi-JK, hampir dipastikan tidak ada berita negatif tentang calon pasangan presiden pada kala itu. Kedekatan antara pemerintahan Jokowi dengan Surya Paloh kemudian berlanjut hingga Jokowi akhirnya terpilih sebagai presiden RI. Kedekatan pemilik MetroTV menjadikan stasiun televisi tersebut menjadi corong pemerintah, seperti keberadaan TVRI di masa Soeharto. Menurut Chomsky dan Herman dalam Kellner (2006:258), ada lima filter dalam propaganda media. Filter tersebut yaitu pertama, ukuran, konsentrasi kepemilikan, kekayaan pemilik, dan orientasi keuntungan dari media massa; kedua, iklan sebagai sumber pendapatan utama dari media massa; ketiga, ketergantungan media akan sumber informasi dari pemerintah, kalangan bisnis, dan orang-orang yang mampu membiayai kepentingan mereka; keempat, "flak"; kelima, antikomunisme.
 Film dokumenter Uncover Papua bersama MetroTV dan PTFI memainkan filter kepemilikan dan ketergantungan dengan pemerintah dalam operasional media mereka. Kedekatan antara Paloh dan Jokowi, dalam hal ini Paloh menjadi media backing dalam pemerintahan Jokowi membuat kinerja kerjanya seakan selalu baik di pemberitaan MetroTV.
Berkaitan mengenai acara Uncover Papua dan MetroTV, acara tersebut mendapat sponsor utama dari PT Freeport Indonesia dan Bank Papua. Adanya sponsor tersebut bisa dilihat dari atribut acara yang digunakan. Ada logo Freeport dan Bank Papua di seragam lapangan yang digunakan host acara dan mobil yang dikendarai mereka ketika berjalan mengelilingi Papua kental dengan nuansa sponsor. Dalam paper ini, secara khusus penulis mengangkat PT Freeport Indonesia sebagai sponsor acara Uncover Papua. Sebelumnya, mari sejenak kita kembali ke masa kampanye Jokowi pada 2014 lalu. Papua dijadikan wilayah perdana dalam kampanyenya. Kala itu, Jokowi menyampaikan lima poin sebagai janji kampanyenya di tanah mutiara hitam tersebut, janji-janji tersebut, yaitu pertama, menyejahterakan tentara dan guru di perbatasan. Kedua, Jokowi berjanji menangani masalah pengangguran. Ketiga, Jokowi berjanji mengentaskan konflik di Papua. Keempat, Jokowi berjanji membangun tol laut di Papua. Kelima, Jokowi akan merenegosiasi dengan perusahaan asing di Papua[1]. Terkait dengan janji kelima yaitu renegosiasi dengan perusahaan asing di Papua, hal ini yang kini tengah menjadi sorotan oleh publik.
Tanah Papua yang diketahui kaya akan sumber daya alam tetapi jauh dari belaian kasih sayang pemerintah pusat kemudian dimanfaatkan oleh PT Freeport Indonesia untuk mengeruk ceruk keuntungan dari sana. PT Freeport Indonesia (PTFI) mendapat izin untuk mengeksplorasi tambang Papua sejak tahun 1967. Saat itu, pemerintahan Indonesia yang baru berjalan 22 tahun bermaksud untuk membuka diri kepada investor asing supaya juga memberikan peluang kerja di negara baru itu. mulailah, perusahaan tambang asal Amerika tersebut merayakan kebebasannya menambang emas di perut bumi Papua.
PTFI menjadi masalah penting bagi wilayah Indonesia karena penambangan yang dilakukan jelas akan terus dilakukan dan menghabiskan sumber daya alam Indonesia. Kontrak kerja PTFI akan berakhir pada tahun 2021 dan permohonan untuk proses perpanjangan kontrak baru bisa dilakukan paling cepat tahun 2019. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, Kementerian ESDM mempercepat proses perpanjangan kontrak yang seharusnya tahun 2019 menjadi tahun 2015[2]. Kontrak karya tersebut diperpanjang bersamaan dengan permintaan pemerintah terkait pembangunan smelter. Selain mengeruk sumber daya alam, PTFI juga meninggalkan jejak kemanusiaan di Papua. Berdasarkan catatan Mongabay Indonesia[3], PTFI banyak melakukan pelanggaran HAM berat. Pelanggaran tersebut, antara lain PTFI lalai dengan standar keselamatan pekerja sehingga pada bulan Mei 2013 lalu ada 28 pekerja yang tewas tertimbun longsoran tambang. Bukan hanya itu, sebagai perusahaan tambang, tentu PTFI mengeluarkan banyak limbah. Hingga tahun 2009, PTFI sudah membuang 1,87 miliar ton limbah tailing ke Sungai Aghawagon, Otomona, dan Ajkwa. Dari limbah tersebut menyebar ke 13.000 hektar lahan pangan dan 3.600 hektar hutan bakau. Pelanggaran-pelanggaran yang merugikan masyarakat Papua terus dilakukan dan perpanjangan kontrak PTFI masih terus dalam tahap renegosiasi oleh kementrian ESDM.
Berdasarkan penelusuran penulis di tiga media online besar Indonesia, yaitu kompas.com, tempo.co, dan metrotvnews.com, hampir dipastikan teks berita di metrotvnews.com menyatakan dukungan dan pembelaan secara tersirat atas apa yang dilakukan oleh PTFI di Papua. Metrotvnews adalah situs media online yang berinduk pada Media Indonesia milik Surya Paloh. Dari beberapa data yang ditemukan, Surya Paloh selain menjalani bisnis di media juga melebarkan bisnis di bidang pertambangan. Investasi yang dilakukan perusahaannya, antara lain di PT Kalimantan Surya Kencana yang beroperasi di Kalimantan dan Tigres Realm Copper yang 60% sahamnya dimiliki oleh Surya Paloh. Dalam laporan utama yang diterbitkan oleh Majalah Tempo edisi 22 Oktober 2012[4], diketahui pula bahwa Surya Paloh berniat untuk menguasai pertambangan di Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi.
Terkait aktivitas penambangan yang dilakukan oleh PTFI, sejumlah LSM yang bergerak di bidang lingkungan seringkali menyuarakan tentang dampak lingkungan dan sosial sebagai imbas dari PTFI. Namun, pemerintah seakan menutup telinga mengenai hal tersebut. MetroTV yang kini menjadi corong pemerintah juga memainkan fakta terkait PTFI. Pers yang seharusnya memberitakan fakta, kini hanyalah bualan semata. Sebagaimana menurut Chomsky (1977) bahwa fakta di media massa hanyalah hasil rekonstruksi dan olahan para awak di meja-meja redaksi. MetroTV sebagai media yang fokus pada berita menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengontrol pikiran publik. Adanya intervensi kepemilikan terhadap media serta institusi politik dalam hal ini pemerintah daerah tempat PTFI bernaung berada di bawah bendera Partai PDI Perjuangan sebagai induk dari rezim pemerintahan yang berkuasa.



PT Freeport Indonesia di Balik Film Dokumenter Uncover Papua
            Keberadaan PT Freeport Indonesia (PTFI) sebagai sponsor Uncover Papua dapat dilihat pada atribut acara, seperti badge berlambang PTFI yang terpasang di seragam lapangan pembawa acara dan logo PTFI yang ada di mobil operasional acara. Selain itu, PTFI juga mendapat sambutan tepuk tangan meriah ketika Ari dan Nia memperkenalkan acara ini ke publik dalam talkshow Kick Andy.
Kick Andy, sebuah acara talkshow yang ditayangkan di MetroTV setiap Jumat malam selalu menghadirkan sosok orang-orang luar biasa yang kisahnya mengharukan dan seringkali dianggap memberikan inspirasi pada orang lain untuk berbuat baik. Dalam program yang diampu oleh Andy F. Noya ini, penonton digiring untuk merasa simpatik atas hal-hal yang dilakukan oleh bintang tamu acara tersebut. Saat itu, di tengah-tengah acara, Andy F. Noya menghadirkan seorang tamu lainnya yang bernama Yullex Sawaki. Yullex Sawaki adalah seorang Papua yang juga pernah diajak oleh Ale dan Nia untuk berpartisipasi dalam film mereka sebelumnya yang berjudul Di Timur Matahari. Ketika ditanya oleh Andy tentang pekerjaannya, orang itu menjawab kalau ia bekerja di PT Freeport Indonesia. Serentak penonton yang berada di ruangan tersebut bertepuk tangan setelah orang tserbut menjawab pertanyaan dari presenter berambut ikal tersebut. Ada apa dengan PT Freeport Indonesia yang diberikan tepuk tangan meriah dalam acara talkshow Kick Andy?
            Menggunakan konsep Encoding Decoding dari Stuart Hall untuk mengintrepretasi tepuk tangan penonton dalam tayangan Kick Andy tersebut. tepuk tangan yang diberikan oleh penonton kepada PTFI dimaksudkan untuk memberikan kesan bahwa PTFI telah berbaik hati memberikan dukungan terhadap program acara yang mempromosikan Papua. Padahal, yang terjadi, kerusakan telah terjadi di Papua akibat penambangan tersebut.
PTFI bersama beberapa perusahaan lain menjadi sponsor utama acara tersebut. Terkait dengan ekonomi politik media, MetroTV memberikan penggambaran citra yang baik atas hal yang dilakukan oleh PTFI dalam memberikan dukungan atas yang dilakukan Ale dan Nia untuk mengabarkan Papua. Indonesia mulai tahun 2007 menjadi negara pertama yang memperkenalkan program Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap perusahaan besar. CSR sendiri adalah konsep dimana perusahaan memberikan fokus kepada sosial dan lingkungan sebagai bagian dari operasional bisnis mereka (Rosser, 2010:2). Di Indonesia, CSR diwajibkan untuk memberikan dukungan kepada setiap usaha untuk menyejahterakan lingkungan sosial di sekitarnya dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang disebabkan baik atas dampak dari perusahaan maupun bukan efek langsung dari perusahaan.
Melalui program CSR, PTFI memberikan sponsor untuk acara Uncover Papua. Penulis tidak mendapatkan data berapa jumlah biaya yang dikeluarkan oleh PTFI untuk memberikan dukungan kepada acara tersebut. Dalam narasi film dokumenter Uncover Papua, pembawa acara tidak pernah lupa juga untuk bercerita tentang hal-hal yang kurang mengenakkan dan ketertinggalan di tanah Papua. Akan tetapi, pembawa acara tidak menampilkan kerusakan alam yang terjadi di Papua seperti yang seringkali diberitakan di media terkait aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh PTFI. Tentu, hal tersebut tidak dilakukan karena PTFI adalah salah satu pemberi dana dalam acara tersebut.
Menurut Chomsky dan Herman dalam Kellner (2006:267) pengiklan atau pemberi sponsor sebuah acara akan memilih media yang memiliki pengaruh, keuntungan besar, dan eksistensi. Sebagai pemberi dana, sponsor tidak ingin diberitakan tentang hal buruk dari perusahaan mereka. Senada dengan hal tersebut, dari dua episode Uncover Papua dan bincang-bincang pembawa acara di talkshow Kick Andy sama sekali luput dari pembahasan tentang dampak negatif dari operasional PTFI.




Referensi:
Chomsky, Noam. 2006. Politik Kuasa Media (terj. Aan Mansyur). Pinus. Yogyakarta.
Edward Herman dan Noam Chomsky. A Propaganda Model dalam Media and Cultural Studies by Meenakshi Gigi Durham dan Douglas M.Kellner. 2006. Blackwell Publishing. USA.
Mollet, Ary Julius. 2011. The Dynamic of Contemporary Local Government Policies and Economics Development in West Papua dalam Jurnal Development in Practice, Volume 21, Number 2, April 2011
Rosser, Andre dan Donni Edwin. 2010. The Politics of Corporate Social Responsibilty in Indonesia dalam Jurnal the Pacific Review Vol. 23 No. 1 March 2010: 1–22.   


[2] bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/11/060812426/Pemerintah.Akui.Ada.Sisi.Buruk.Percepat.Perpanjangan.Kontrak.Freeport. diakses pada 12 April 2015, pukul 06.55.

[3] sebuah situs berita online yang fokus pada masalah lingkungan. 

[4] m.tempo.co/read/news/2012/10/22/090437010/Petambang-Liar-Berebut-Emas-dengan-Surya-Paloh. Diakses 12 April pukul 06.50.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Via Vallen Digemari? : Sebuah Amatan tentang Via Vallen

Salon: Tempat Pelarian Perempuan Kelas Menengah