Postingan

Catatan Perjalanan: Mengunjungi Kampung Baduy

Gambar
Patung Selamat Datang Menuju Titik Awal Perjalanan Lebaran tahun 2017 ini, saya dan keluarga memutuskan untuk merayakan Idul Fitri di Tangerang, bukan di Jepara, seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk mengisi jeda liburan yang cukup panjang, di hari ketiga Lebaran, kami berkunjung ke Desa Kanekes atau yang lebih dikenal dengan Desa Adat Baduy.                   Sebelum berangkat, kami mempersiapkan banyak hal, terkait transportasi, akomodasi, dan kebutuhan logistik. Beberapa informasi sebelum berangkat ke Baduy saya dapatkan dari beberapa travel blogger yang sudah lebih dulu menjejakkan kakinya ke Desa Kanekes. Untuk transportasi, karena ini perjalanan keluarga, kami menggunakan mobil pribadi dengan ayah saya sebagai sopir andalannya. Soal akomodasi, masing-masing anggota keluarga yang berjumlah enam orang membawa keperluan pribadinya menggunakan tas ransel. Hindari menggunakan tas sl...

Lebaran dan Kesenjangan Sosial

Gambar
Menjelang Lebaran apa yang paling ramai? Masjid? Pusat kegiatan agama? Mushola?  Pertanyaan retoris yang akan selalu didengungkan tiap tahun. Sependek penglihatanku, yang paling ramai adalah toko kue dan penunjangnya, seperti penjual perkakas rumah tangga, toko pakaian, ataupun pasar. Beberapa kali kuhampiri Pasar Beringharjo atau Malioboro Mall semua penuh sesak dengan orang-orang yang mengerubungi Sale Pakaian Beli 1 Gratis 1. Seperti yang juga kulakukan. Toko kue pun tak kalah ramainya. Toko cemilan Sukses kemarin berhasil menyukseskan kemacetan jalan Jogja menjelang Lebaran. Tokonya penuh sesak dengan orang-orang yang berburu cemilan.  Soal kue Lebaran dan aneka cemilan, momen Lebaran selalu menjadi ajang silaturahmi atau 'open house' istilah keren ala-ala masyarakat kekinian. Lazimnya orang Indonesia, tentu akan menyuguhkan panganan untuk tamu-tamu yang hadir. Orang-orang akan berlomba-lomba menyediakan kue lebaran. Tiga sampai lima macam belumlah pantas. Semakin...

Memaknai Puasa

Gambar
Setelah berhari-hari berpuasa, aku memaknai puasaku sendiri. Adakah aku sudah menahan diri untuk tidak makan dan minum di siang hari? Rasa-rasanya tidak sepenuhnya demikian. Usiaku sudah 27 tahun, sudah wajib puasa sejak 16 tahun lalu. Puasaku masih sama seperti pertama kali aku belajar puasa. Masih kerap membayangkan makanan-makanan yang enak.Jangan-jangan, seperti kata Gus Mus, puasaku hanya memindahkan jam makan dan minum pada saat terbenamnya matahari.  Seharusnya puasaku beranjak dewasa. Tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus saja.  Ada yang lebih penting dari itu. Bagaimana aku melatih pikiranku untuk tidak memikirkan hal-hal yang dilarang Allah. Bagaimana aku melatih pendengaranku, penglihatanku, pembicaraanku pada sesuatu yang baik yang menjadikanku manusia yang baik. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain. Pada satu masa, puasaku bersanding dengan konsumerisme. Sebulan sebelum berpuasa, aku tidak menyiapkan diri dengan ilmu, padahal sebuah kegiatan...

Dakwah bil Hal, Dakwah di Mal*

Gambar
Muhammadiyah Expo Sebulan lalu seorang sahabat menghubungi saya. Ia mengajak saya berkunjung ke Blok M Square, Jakarta Selatan, untuk mengikuti kajian seorang ustadz yang tengah naik daun. Ngaji kok di mall , batin saya. Ternyata, masjid ini rutin mengadakan kajian tematik dengan pembicara yang ahli di bidangnya. Mirip dengan kajian-kajian keagamaan yang kerap saya temui di mimbar-mimbar masjid atau ruang diskusi lain di sekitaran kampus Jogja .  Belakangan saya ketahui, Blok M Square memiliki sebuah masjid indah nan megah yang berada di lantai paling atas bangunannya. Masjid ini tidak hanya digunakan oleh pengunjung mal untuk melakukan ibadah shalat 5 waktu ketika mereka tengah berada di pusat perbelanjaan tersebut. Masjid ini juga memiliki pengelola khusus atau takmir masjid sebagaimana masjid pada umumnya. Jangan bayangkan kita akan shalat di sebuah ruang sempit yang hanya mampu menampung sedikit orang. Masjid di dalam pusat perbelanjaan dibangun megah dengan interior y...

Budaya: Muslim Keren Baru*

Gambar
Pendahuluan Pasca serangan teroris ke Amerika Serikat tahun 2001 dan juga merebaknya teror ISIS di beberapa bagian dunia, membuat wajah Islam semakin terlihat suram. Hal ini dirasakan oleh masyarakat keturunan Timur Tengah yang tumbuh di Eropa. Salah satunya Shelina Janmohamed. Sebagai warga keturunan, ia merefleksikan bagaimana kehidupan dan gaya hidup yang dipilihnya sebagai seorang Muslim agar tetap sejalan dengan tuntunan agama dan modernitas yang berkembang di Eropa. Buku ini membahas tren konsumerisme global yang berfokus pada generasi Muslim sebagai salah satu penggerak ekonomi terkuat pada abad ke-21. Gaya hidup ini mengarah ke bidang musik, makanan halal, fashion, pariwisata, dan kesehatan. G agasan mengenai merek berbasis Islam, yaitu membangun bisnis, produk, dan merek yang melibatkan konsumen Muslim, telah menarik perhatian besar dari pelaku usaha. Menurut Pusat Riset Agama dan Kehidupan Sosial Pew, jumlah Muslim diperkirakan meningkat 73%, dari 1,6 miliar pa...

Tentang Perbedaan Pandangan

Kantor pagi ini rame. Kepala kantor kami membicarakan rencana aksi dari ikatan mahasiswa yang ingin berdemo di depan rumah Buya Syafii Maarif. Demo itu berdasarkan atas tindakan dan ucapan Buya di Indonesia Lawyers Club (ILC) terkait aksi 4 November beberapa hari lalu. Tidak mengherankan memang ketika seorang tokoh didemo oleh sebuah golongan yang tidak sepakat dengan ucapan, tindakan, dan keputusannya. Di Jakarta, juga ada demo serupa. Ela Nofitasari, sekretaris dari pimpinan pusat ikatan diminta mengundurkan diri karena mendeklarasikan diri menjadi salah satu anggota Gadis Ahok, kelompok perempuan pendukung Ahok sebagai Gubernur Jakarta. Bahkan berbagai petisi online bermunculan dengan alasan yang kurang jelas kenapa kita harus menandatangani petisi tersebut. *** Media massa dalam pemilihan kepala daerah yang akan berlangsung serentak di Indonesia pada 2017 nanti berhasil memecah belah pandangan politik orang dan golongan. Persyarikatan ini, yang lahir dari embrio sosial Ahmad ...

Jalan-jalan ke Kota Manado (1)

Hampir sebulan lalu, saya mendapat tugas luar kota untuk mengikuti bulan Pengurangan Risiko Bencana yang diselenggarakan oleh BNPB di Manado. Acara ini diikuti oleh bapak-bapak dan ibu-ibu perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah se-Indonesia. Mendapat perintah untuk berdinas ke luar kantor (baca: jalan-jalan) tentu hati senang bukan kepalang. Saya berangkat dari Jogja pada Selasa sore bersama dua senior kantor. Pesawat transit di Kota Makassar sebelum akhirnya mendarat di kota Manado. Jam menunjukkan pukul 23.00 Wita ketika kami mendarat di Bandara Sam Ratulangi. Di bandara, kami sudah ditunggu oleh 3 orang rekan-rekan relawan dari Manado yang akan membawa kami menuju hotel di pinggir Pantai Boulevard, sekitar 45 menit lokasinya dari bandara. Itupun kalau gak macet. Di sepanjang perjalanan menuju hotel, saya mengamati suasana Kota Manado. Hampir tengah malam dan kota ini masih ramai saja. Di beberapa warung makan, masih banyak orang yang berkumpul menikmati makanan at...

Ruang Privasi

Enam bulan sudah saya beraktivitas di Gedung Muhammadijah jang dibangoen dengan dana himpunan dari oemat. Gedung ini berusia tua, dari sebuah plakat kecil yang ditempel di sisi kanan gerbang gedung, kita bisa melihat catatan waktu gedung ini mulai beroperasi. Gedung ini tidak nampak seperti kantor administratif dengan banyak urusan dan kegiatan di dalamnya. Dari luar, malah seperti tempat pengajian buat bapak-ibu usia paruh baya. Hehe, ampun, Bos.  Tiap Senin sampai Sabtu dengan jam kerja dari jam 8.00-16.00 sore, saya berkegiatan di lantai dua, menempati sebuah ruangan yang merupakan dua ruang besar yang disatukan. Kantor saya, Lembaga Penanggulangan Bencana, kadangkala sesuai dengan nomenclatur namanya mirip seperti sebuah ruangan yang terdampak bencana. Kardus berisi logistik di mana-mana, kertas dan buku yang awalnya tertata rapi lalu datang relawan dari berbagai daerah kemudian jadi berantakan, dengan banyak toples berisi cemilann ber-MSG tersaji di meja tamu dan meja par...