Lebaran dan Kesenjangan Sosial



Menjelang Lebaran apa yang paling ramai? Masjid? Pusat kegiatan agama? Mushola? 
Pertanyaan retoris yang akan selalu didengungkan tiap tahun. Sependek penglihatanku, yang paling ramai adalah toko kue dan penunjangnya, seperti penjual perkakas rumah tangga, toko pakaian, ataupun pasar. Beberapa kali kuhampiri Pasar Beringharjo atau Malioboro Mall semua penuh sesak dengan orang-orang yang mengerubungi Sale Pakaian Beli 1 Gratis 1. Seperti yang juga kulakukan.

Toko kue pun tak kalah ramainya. Toko cemilan Sukses kemarin berhasil menyukseskan kemacetan jalan Jogja menjelang Lebaran. Tokonya penuh sesak dengan orang-orang yang berburu cemilan. 

Soal kue Lebaran dan aneka cemilan, momen Lebaran selalu menjadi ajang silaturahmi atau 'open house' istilah keren ala-ala masyarakat kekinian. Lazimnya orang Indonesia, tentu akan menyuguhkan panganan untuk tamu-tamu yang hadir. Orang-orang akan berlomba-lomba menyediakan kue lebaran. Tiga sampai lima macam belumlah pantas. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, semakin banyak jenis kuenya. 

Soal lainnya, baju yang akan dikenakan saat silaturahmi Lebaran. Bak ajang fashion show, orang-orang berlenggak-lenggok mengenakan pakaian barunya dari model terkini. Bagi mereka yang berpunya, dalam sehari bisa berganti dua hingga tiga jenis pakaian. Tergantung pada acara dan siapa yang akan ditemui. 

Ramadhan mengajarkan kita untuk berempati. Sama-sama merasakan lapar dan haus seperti orang lain yang pernah kelaparan dan kehausan. 

Ramadhan mengajarkan kita untuk berbagi. Lewat zakat fitrah yang kita bayarkan selama Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. Agar mereka yang tak berpunya merasakan nikmatnya seperti kita yang berada. 

Idul Fitri adalah momen kita menjadi manusia baru. Jika kue dan bajumu berlebihan, semakin menunjukkan kelas sosialmu, semakin membuatmu berbeda dengan orang lain, lalu bagaimana makna puasa yang telah 30 hari kamu jalani? 

Idul Fitri, mari dirayakan dengan cara yang biasa saja. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. 
Taqabbalallahu minna wa minkum. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Via Vallen Digemari? : Sebuah Amatan tentang Via Vallen

Salon: Tempat Pelarian Perempuan Kelas Menengah