Membaca Antiminiatuur




Tugas menulis hari ini menjadi terasa berat. Gimana enggak, panitia #BBKU membuat kewajiban dadakan untuk mereview tulisan teman lain. Untuk mereview tentu kita perlu membaca terlebih dahulu. Itu yang berat. Membaca, secara minat baca saya sedang rendah-rendahnya.

Berat yang kedua, tulisan yang saya review adalah milik juara #BBKU. Kebayang dong menilai tulisan yang secara aklamasi dianggap terbaik oleh teman-teman peserta #BBKU1. 


***

Saya mendapat tugas mereview tulisan Jarwo. Secara umum, membaca tulisan Jarwo kayak baca Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad. Tentang keseharian sih. Sederhana tapi juga bikin dahi mengernyit yang artinya banyak hal yang belum saya tau dan mesti cari tau.

Dari tema-tema sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari ini kemudian dielaborasi dengan teori dan referensi lain dan menghasilkan karya nan asyik. Sebagai contoh di tulisan berjudul Terekam, Jarwo menggabungkan teori Foucault dalam pandangannya terhadap kasus video hot Ariel-Luna. Juga dalam tulisan berjudul Perihal 'Itu'. Ini tulisan kok selow banget ya, memperhatikan kebiasaan orang memakai tusuk gigi. Sebuah hal kecil, detil, dan luput dari perhatian orang. Gaya tulisan Jarwo di sini menurut saya mirip dengan tulisan Samuel Mulia yang saban minggu kerap tampil di rubrik Parodi harian Kompas.

Pada tulisan lain seperti Dini Hari dan Rebahan, bisa dilihat bagaimana alur berpikir Jarwo yang runut seakan-akan ia mencatat detik demi detik kejadian yang ia lalui. Dalam psikologi sastra, di dua tulisan tsb, Jarwo berhasil membawa pembaca untuk masuk ke dalam tulisan. Pembaca seolah-olah berada di dalam kegiatan yang ditulis oleh Jarwo.

Kecintaan Jarwo tentang ruang, seni, dan segala hal berbau arsitektur terlihat dalam tulisannya berjudul Telepon Siapa di Telepon Umum. Di sana, Jarwo memaknai fungsi telepon umum sesuai dengan perkembangan zaman. Tentu dengan bau-bau filsafat.

Di beberapa tulisan Jarwo ada yang saya hiraukan dan tidak ada minat untuk membaca lebih lanjut karena terlalu panjang atau judul yang diberikan kurang menarik, seperti pada tulisannya yang diawali dengan sebuah klip video.

Secara umum, tulisan Jarwo sudah memenuhi kaidah penulisan dengan Ejaan yang Disempurnakan. Pula pemilihan kosakata dan berbagai diksi sangat baik. Alur pemikiran dan tulisan yang dipilih bersifat deduktif, dari umum ke khusus. Mengutip kata-kata Levi dalam thumblr-nya ketika menilai tulisan dalam #BBKU1, tulisan Jarwo khas orang bergolongan darah A yang rapi, sesuai sistematika, dan perfeksionis.

***

Demikian saya membaca tulisan dari Juara #BBKU1. Kalau pake tendensi pribadi, saya sih tertarik dengan tulisannya berjudul Postscript Kampungan untuk Aulia karena dalam tulisan itu terasa betul bagaimana Jarwo memperhatikan secara detail seorang Aulia Taarufi. Alasannya simpel, siapa sih yang gak suka dirinya dinilai sebegitu apiknya oleh orang lain?

Oke, Jarwo, sori terlalu panjang dan gw sotoy abis. Yang jelas, ini sa'ik, Bre! *sambil makan pisang*

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Via Vallen Digemari? : Sebuah Amatan tentang Via Vallen

Salon: Tempat Pelarian Perempuan Kelas Menengah