Terbentur. Terbentuk.

Adalah sebuah mantra dari tokoh bernama Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka yang menjadi motivasi eksternal dalam hidup saya. Mantra ini begitu mengena dalam proses pembentukan diri saya. Teringat waktu usia saya 19 tahun, saya pernah berpikir, "hidup gue kok gini-gini amat ya? Cuma kuliah, kos, main."
Waktu itu rasanya gak ada yang gereget selain tiap malam menggosipkan gebetan gagal yang letaknya nun jauh di Tangerang.

Sampai akhirnya setelah lulus sarjana, saya pernah merasakan indahnya kerja kantoran. Di angkatan saya, bisa dibilang saya orang pertama yang mendapat pekerjaan sesudah lulus. Maklum, lulusan Sastra Arab, peluang kerja terbatas, kecuali mau jadi pegawai bank. Indahnya kerja kantoran hanya saya nikmati selama tiga bulan. Saya memilih keluar dari kantor penerbit karena diterima menjadi Pengajar Muda gaweannya Pak Mendikbud. Walaupun akhirnya gak jadi saya ambil. Singkat cerita setelah itu saya luntang-lantung. Terbenturlah hidup saya karena sebagai anak pertama dan masih muda saya dikondisikan untuk meneruskan estafet cita-cita orang tua. Dalam hal ini menjadi mandiri dalam urusan finansial.

Beruntung, sebulan setelah masa luntang-lantung, saya diterima kembali menjadi editor akuisisi di lini penerbit Bentang Pustaka, PlotPoint Kreatif. Kembali saya terbentur kendala ketidaknyamanan bekerja di Jakarta. Bayangkan saja, selama 1,5 tahun saya harus bergumul mencapai kantor dengan empat jam perjalanan berangkat. Dari Kota Tangerang menuju Cilandak. Energi saya habis di jalan.

Suatu bisikan ajaib datang pada saya, teman dekat mengajak sekolah lagi. Akhirnya, di sinilah saya berada. Menjadi mahasiswa pascasarjana semester 3. Apakah sudah terbentuk? Belum, Sodara-sodara!

Kuliah di KBM yang multidisiplin membuat saya harus melakukan akselerasi belajar. Saya mana tau itu aliran Posmo seperti yang sering disebut Jarvis. Saya juga gak ngerti teori komunikasi yang sering diperbincangkan Hair dan Levi. Apalagi teori feminis, yang kerap dibahas Mak Rhea dab Ilmi. Yang saya paham cuma analisis wacana kritis dan id ego superego-nya Freud karena kebetulan skripsi saya pake analisis psikologi.

Saya terbentur selalu. Pernah saya merasa nyaman, tidak terbentur apapun, tapi kembali saya membenturkan diri. Biar terbentuk. Seperti pandai besi yang dulu ada di belakang rumah saya, membentuk pisau nan tajam. Bukan, bukan untuk menyakiti siapapun. Itulah alat kepercayaan diri.

Terima kasih kata penyemangatnya, Tan Malaka :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Via Vallen Digemari? : Sebuah Amatan tentang Via Vallen

Salon: Tempat Pelarian Perempuan Kelas Menengah