Orientasi Kampus dan Perkembangan Zaman

Hari ini saya diminta seorang sahabat untuk mendampinginya dalam pelepasan wisudawan Program Magister Akuntansi FEB UGM. Seperti biasa, dalam acara-acara formal kampus tentu ada sesi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Himne Gadjah Mada. Ketika menyanyikan Himne Gadjah Mada, entah kenapa jantung saya selalu berdegup. Serasa ada yang berdesir. Ah, itu hanya perkara terlalu banyak bawa perasaan.

Saya mencermati bait per bait.

Tentu ada makna tertentu dalam tiap liriknya.

Lalu ingatan saya kembali ke masa PPSMB atau Ospek UGM. Di zaman saya, Ospek UGM sudah disesuaikan dengan kebutuhan output kampus. Yang saya ingat, materi yang diberikan selama 5 hari adalah bagaimana menjadi seseorang yang sukses dan memiliki jabatan penting dalam tiap posisi.
Waktu itu euforia anak muda pencari kesuksesan membuat saya berpikir hal itu adalah hal biasa. Semakin ke sini, saya semakin sadar soal kapitalisme. Masyarakat dan sekolah mencetak kami-kami ini menjadi kelas pekerja. Sukses adalah tujuan akhir. Sedang proses di sana fidaj terlalu diperhatikan.

Sedangkan di masa lalu, pejuang memaknai sukses sebagai bagaimana caranya bisa mempertahankan harga diri bangsa di mata negara lain.

Ya, UgM makin hari tentu mengikuti perkembangan zamabn. Bukan melulu romantisme idealis. Karena idealis gak kenyang. Mau praktis pun menodai kata hati. Piye jal?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Via Vallen Digemari? : Sebuah Amatan tentang Via Vallen

Salon: Tempat Pelarian Perempuan Kelas Menengah